Percobaan 13

PENGHAMBATAN TUMBUH TUNAS LATERAL DAN DOMINASI TUNAS APIKAL

Nama   : Meirza Safitri Rizky              Tanggal Percobaan      :

Nrp      : A34080068                           Bahan Tanaman          : Phaseolus radiatus

Dept.   : Proteksi Tanaman

Nama Asisten : – Lia Amelia  (G34062494)               Nilai :              Paraf :

- Mafrikhul M (G34052008)

Tujuan : – Meneliti pengaruh auksin terhadap pertumbuhan tunas lateral.

PENDAHULUAN

Hormon tumbuhan atau fitohormon adalah zat pengatur yang dihasilkan oleh tumbuhan yang dalam konsentrasi rendah mengatur proses-proses fisiologis dalam tubuh tumbuhan. Istilah pengatur pertumbuhan tanaman meliputi kategori luas yaitu substansi organik (selain vitamin dan unsur mikro) yang dalam jumlah sedikit merangsang, menghambat, atau sebaliknya mengubah proses fisiologis.Pengatur pertumbuhan tanaman dibagi menjadi 5 kelas, yaitu auksin, giberelin, sitokinin, penghambat pertumbuhan, dan etilen ( Gardner dkk, 1991).

Auksin adalah salah satu bentuk hormon yang paling banyak diteliti. Terutama berpengaruh terhadap pertumbuhan dengan merangsang pembesaran sel. Dalam merangsang pembelahan sel dan perubahan-perubahan lainnya, auksin ini bekerja sama dengan hormon-hormon lain (S.S. Tjitrosomo, 1985).Auksin merupakan istilah generik untuk substansi  pertumbuhan yang khususnya merangsang perpanjangan sel, tetapi auksin juga menyebabkan suatu kisaran respon pertumbuhan yang agak berbeda-beda. Respon auksin berhubungan dengan konsentrasinya. Konsentrasi yang tinggi bersifat menghambat (Gardner dkk, 1991).

Auksin mengatur proses di dalam tubuh tanaman dalam morfogenesis. Misalnya kuncup lateral dan pertumbuhan akar dihambat oleh auksin, namun permulaan pertumbuhan akar baru digalakkan pada jaringan kalus yang terbentuk pada stek. Konsentrasi auksin yang berlebihan menyebabkan ketidaknormalan., seperti epinasti (kelainan bentuk daun yang disebabkan oleh pertumbuhan yang tidak sama urat daun bagian ujung dan pangkalnya). Auksin menunda absisi daun dan buah. Auksin merangsang partenokarpi (buah tanpa biji) pada buah, misalnya buah strawberry tumbuh tanpa biji bila diberi perlakuan dengan asam naftalenasetat (NAA) atau dengan pilokram. Secara normal, kehadiran biji atau suatu sumber eksogen auksin diperlukan untuk pertumbuhan buah. Auksin juga efektif dalam mencegah berkecambahnya umbi yang disimpan (Gardner dkk, 1991).

HASIL PENGAMATAN

Tabel Hasil Perlakuan

Perlakuan Panjang rata-rata tunas lateral (mm) Diameter rata-rata batang (mm)
Kontrol 37,5 3
Diberi Lanolin - 1,75
Diberi IAA - 2,25

PEMBAHASAN

Dari hasil pengamatan didapatkan hasil yaitu diameter rata-rata batang yang diberi pasta lanolin sebesar 3 mm, yang diberi pasta IAA 400 ppm sebesar 2,25 mm, sedangkan kontrol sebesar 3 mm. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh auksin yang diberikan pada tunas lateral justru akan menghambat pertumbuhan tunas tersebut dan mengakibatkan adanya dominasi apikal. Auksin yang diberikan pada tunas lateral sebagai auksin sintetis akibat pemotongan pucuk yang berfungsi sebagai penghasil auksin alami. Oleh karena itu pertumbuhan tunas lateral menjadi terhambat, karena konsentrasi auksin yang ditambahkan tinggi. Sehingga dapat dikatakan bahwa pengaruh auksin yang diberikan terhadap pertumbuhan tunas lateral berbeda dari pengaruh auksin yang dibentuk tunas itu sendiri.

Menurut Gardner dkk, 1991, auksin mengatur proses di dalam tubuh tanaman dalam morfogenesis. Misalnya kuncup lateral dan pertumbuhan akar dihambat oleh auksin, namun permulaan pertumbuhan akar baru digalakkan pada jaringan kalus yang terbentuk pada stek.

KESIMPULAN

Auksin merupakan hormon yang berfungsi untuk merangsang pembesaran sel, mempercepat pertumbuhan, baik pertumbuhan akar maupun pertumbuhan batang, mempercepat pematangan buah, dan juga dapat mengurangi jumlah biji dalam buah.

DAFTAR PUSTAKA

[Anonim]. 2010. Auksin. http://biologigonz.blogspot.com (22 Mei 2010)

JAWABAN PERTANYAAN

  1. Batang tanaman menjadi lemah dan warna tanaman menjadi lebih pucat.
  2. Fungsi hormon auksin yang dibentuk oleh tanaman itu sendiri untuk mempercepat pertumbuhan, baik pertumbuhan akar maupun pertumbuhan batang, mempercepat pematangan buah, dan juga dapat mengurangi jumlah biji dalam buah. Akan tetapi, pengaruh auksin yang diberikan pada tunas lateral justru akan menghambat pertumbuhan tunas tersebut dan mengakibatkan adanya dominasi apikal. Auksin yang diberikan pada tunas lateral sebagai auksin sintetis akibat pemotongan pucuk yang berfungsi sebagai penghasil auksin alami. Karenanya pertumbuhan tunas lateral menjadi terhambat, karena konsentrasi auksin yang ditambahkan tinggi. Sehingga dapat dikatakan bahwa pengaruh auksin yang diberikan terhadap pertumbuhan tunas lateral berbeda dari pengaruh auksin yang dibentuk tunas itu sendiri.
  3. Kegunaan auksin bagi pemeliharaan tanaman tahunan adalah dapat mengurangi pertumbuhan cabang yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman.
  4. Pemangkasan pucuk dilakukan karena pada pucuk tersebut auksin alami tumbuhan yang berfungsi untuk pertumbuhan pemanjangan tanaman terbentuk. Dengan pemotongan pucuk, berarti akan menghambat pertumbuhan tunas apikal, dan mendominasi tunas lateral akibatnya tumbuhan akan menyemak. Tanaman hortikultura perlu dilakukan pemangkasan pada pucuk, karena tanaman hortikultura tersebut akan dimanfaatkan. Apabila tanaman tumbuh tinggi menjulang akan menyulitkan perawatan, pemantauan, dan pemanenan.

Percobaan 12

UJI BIOLOGIS 2,4-D

Nama   : Meirza Safitri Rizky              Tanggal Percobaan      :

Nrp      : A34080068                           Bahan Tanaman          : Cucumis sativus

Dept.   : Proteksi Tanaman

Nama Asisten : – Lia Amelia  (G34062494)               Nilai :              Paraf :

- Mafrikhul M (G34052008)

Tujuan : – Menentukan konsentrasi efektif 2,4-D sebagai herbisida dengan menggunakan kurva respon tumbuh akar terhadap logaritma konsentrasi 2,4-D.

PENDAHULUAN

Auksin sintetis, seperti halnya 2,4-dinitrofenol (2,4-D), digunakan secara meluas sebagai herbisida tumbuhan. Pada Monocotyledoneae, misalnya : jagung dan rumput lainnya dapat dengan cepat menginaktifkan auksin sintetik ini, tetapi pada Dicotyledoneae tidak terjadi, bahkan tanamannya mati karena terlalu banyak dosis hormonalnya. Menyemprot beberapa tumbuhan serialia ataupun padang rumput dengan 2,4-D, akan mengeliminir gulma berdaun lebar seperti dandelion.

Sejumlah uji biologis untuk auksin dilakukan berdasarkan pengaruhnya terhadap penghanbatan pemanjangan akar. Pertumbuhan akar sangat peka terhadap auksin, sehingga pengujian dengan akar merupakan cara yang peka untuk melihat pengaruh auksin. Senyawa 2,4-D adalah senyawa sintetis yang dalam banyak hal sama dengan hormone tumbuh alami, IAA, yaitu merangsang atau menghambat proses-proses perkembangan tumbuhan.secara komersial 2,4-D banyak digunakan sebagai herbisida untuk memberantas gulma. Dibandingkan dengan IAA, 2,4-D secara fisiologis lebih aktif dan lebih tahan lama di dalam jaringan tumbuhan, serta harganya relatif lebih murah.

HASIL PENGAMATAN

Tabel Hasil Pengamatan

Tanaman Timun Konsentrasi 2,4-D
0,001 0,01 0.1 0 1
1 8,2 5,5 4,5 7,3 0,9
2 5,5 6,7 4,5 10,1 0,8
3 5,4 6,5 3,7 10,1 0,8
4 8,2 7,1 3,8 14 1,3
5 6,5 3,5 3,3 8,5 1,1
6 10,7 6 3,7 12,2 1
7 8,5 3,5 4 9,3 2,2
8 6,9 3 4 12,2 1,2
9 6 6,5 3,9 8,5 1
10 7,8 3,3 2,9 10,1 1
11 6,7 4,8 3,7 11,1 1
12 9,5 3,8 5,5 9,1 1,2
13 6 3,4 3,8 4,3 Mati
14 6,1 Mati 3,5 1,5 Mati
15 7,1 Mati Mati Mati Mati
Rata-rata 7,27 4,24 3,65 8,55 0,9

** Konsentrasi 10 → tidak tumbuh akar

PEMBAHASAN

Dari hasil percobaan didapatkan hasil yaitu panjang rata-rata akar timun pada konsentrasi 2,4-D 0,001 = 7,27 mm, konsentrasi 0,01 = 4,24 mm, konsentrasi 0,1 = 3,65 mm, konsentrasi 0 = 8,55 mm, konsentrasi 1 = 0,9 mm, dan pada konsentrasi 10 tidak terjadi pertumbuhan akar.

Panjang rata-rata akar yang paling tinggi adalah pada konsentrasi rendah, sedangkan pada konsentrasi yang sangat tinggi tanaman bisa mati dan tidak terjadi pertumbuhan akar. Konsentrasi auksin yang rendah mampu meningkatkan pertumbuhan akar secara optimal. Pada larutan penyangga digunakan pH 5,6 untuk melindungi benih mentimun dari penyakit layu kecambah. Selain itu juga mempengaruhi asosiasi senyawa asam lemah yang terbentuk dari asam amino dan bahan organik pada auksin 2,4-D.

KESIMPULAN

Konsentrasi 2,4-D yang paling efektif sebagai herbisida dengan menggunakan kurva respon tumbuh akar terhadap logaritma konsentrasi 2,4-D adalah pada konsentrasi 1 dan konsentrasi 10 tidak terjadi pertumbuhan akar. Konsentrasi auksin yang rendah mampu meningkatkan pertumbuhan akar secara optimal.

DAFTAR PUSTAKA

Isbandi, J. 1983. Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman. Fakultas Pertanian UGM. Yogyakarta.

JAWABAN PERTANYAAN

  1. Keefektifan auksin ditinjau dari konsentrasi yang digunakan untuk merangsang pertumbuhan akar tanaman adalah sangat rendah. Hal ini disebabkan karena pada konsentrasi 2,4-D akar rendah. Akar tanaman hampir sama dengan pemanjangan akar pada konsentrasi tinggi. Pemanjangan akar yang luar biasa terlihat pada konsentrasi rendah (0,0 mg/L)
  2. Peranan pH pada percobaan ini adalah sebagai pelindung benih mentimun dari penyakit layu kecambah. Selain itu juga mempengaruhi asosiasi senyawa asam lemah yang terbentuk dari asam amino dan bahan organik pada auksin 2,4-D.
  3. Panjang rata-rata akar pada perlakuan 2,4-D yang paling rendah berbeda jauh dengan panjang rata-rata akar pada perlakuan penyangga. Jadi konsentrasi auksin yang rendah mampu meningkatkan pertumbuhan akar secara optimal.

Percobaan 11

KURVA SIGMOID PERTUMBUHAN

Nama   : Meirza Safitri Rizky              Tanggal Percobaan      :

Nrp      : A34080068                           Bahan Tanaman          : Phaseolus vulgaris

Dept.   : Proteksi Tanaman

Nama Asisten : – Lia Amelia  (G34062494)               Nilai :              Paraf :

- Mafrikhul M (G34052008)

Tujuan : – Meneliti laju tumbuh daun sejak dan embrio dalam biji sampai daun mencapai ukuran tetap pada tanaman kacang jogo.

PENDAHULUAN

Pertumbuhan tanaman mula-mula lambat, kemudian berangsur-angsur lebih cepat sampai tercapai suatu maksimum, akhirnya laju tumbuh menurun. Apabila digambarkan dalam grafik, dalam waktu tertentu maka akan terbentuk kurva sigmoid (bentuk S). Bentuk kurva sigmoid untuk semua tanaman kurang lebih tetap, tetapi penyimpangan dapat terjadi sebagai akibat variasi-variasi di dalam lingkungan. Ukuran akhir, rupa dan bentuk tumbuhan ditentukan oleh kombinasi pengaruh faktor keturunan dan lingkungan (Tjitrosomo, 1999).

Beberapa cara tersedia dalam pendekatan pada sistem seperti sistem tanaman dengan produk biomassa yang meningkat secara sigmoid dengan waktu untuk mendapatkan faktor-faktor dan proses hipotetik. Menerapkan fenomena yang sudah dikenal cukup baik kepada suatu sistem yang sedang dipelajari merupakan suatu pendekatan yang umum dilakukan. Pada suatu waktu, distribusi zat dalam setiap tempat dalam ruangan akan menunjukkan hubungan yang berbentuk sigmoid (Sitompul dan Guritno, 1995)

Banyak peneliti merajahkan ukuran atau bobot organisme terhadap waktu dan ini menghasilkan kurva pertumbuhan. Sering, kurva tersebut dapat dijelaskan dengan fungsi matematika yang sederhana misalnya garis lurus atau kurva berbentuk S yang sederhana. Walaupun proses metabolik dan proses fisika yang menghasilkan kurva pertumbuhan terlalu rumit untuk dijelaskan dengan menggunakan model sederhana., kurva sederhana sering berguna berguna dalamperujukan berbagai data yang terukur. Lagipula, koefisien yang harus dimasukkan agar persamaan cocok dengan kurva dapat digunakan untuk mengelompokkan efek suatu perlakuan dalam percobaan.

Kurva pertumbuhan berbentuk S (sigmoid) yang ideal yang dihasilkan oleh banyak tumbuhan setahun dan beberapa bagian tertentu dari tumbuhan setahun maupun bertahunan, Pada fase logaritmik ukuran (V) bertambah secara eksponensial sejalan dengan waktu (t). Ini berarti laju kurva pertumbuhan (dV/dt) lambat pada awalnya. Tetapi kemudian meningkat terus. Laju berbanding lurus dengan organisme, semakin besar organisme semakin cepat ia tumbuh.
Fase pertumbuhan logaritmik juga menunjukkan sel tunggal. Fase ini adalah fase dimana tumbuhan tumbuh secara lambat dan cenderung singkat.

Pada fase linier, pertambahan ukuran berlangsung secara konstan, biasanya pada waktu maksimum selama beberapa waktu lamanya. Laju pertumbuhan ditunjukkan oleh kemiringan yang konstan pada bagian atas kurva tinggi tanaman oleh bagian mendatar kurva laju tumbuh dibagian bawah. Fase senescence ditunjukkan oleh laju pertumbuhan yang menurun saat tumbuhan sudah mencapai kematangan dan mulai menua. (Salisbury.F.B.1995)

HASIL PENGAMATAN

No. Umur Tanaman (hari) Panjang rata-rata daun (mm) Rataan Total
Biji 1 Biji 2 Biji 3
1 0 1,15 0,68 1,2 1,01
2 3 3 1,4 2,2 2,2
3 5 5 3,2 5,3 4,5
4 7 7,2 5,5 6,7 6,47
5 10 8,4 6,6 7,5 7,5
6 14 9,3 8 10,3 9,2
7 17 10 8,5 10,8 9,77
8 20 10,3 9 11 10,1
9 23 11 9,6 11,3 10,63
10 25 11,7 10 11,8 11,17
11 28 12 10,5 12,3 11,6

PEMBAHASAN

Dari hasil pengamatan dapat diketahui bahwa panjang daun mengalami kenaikan, kenaikan mula-mula tidak begitu cepat, namun lama-lama terus meningkat. Kenaikan ini menunjukkan ukuran kumulatif dari waktu ke waktu, dimana tanaman pada saat ini berada pada fase logaritmik. Hal ini sesuai dengan literatur Srigandono (1991) yang menyatakan bahwa kurva menunujukkan ukuran kumulatif sebagai fungsi dari waktu. Fase logaritmik berarti bahwa laju pertumbuhan lambat pada awalnya, tapi kemudian meningkat terus. Laju berbanding lurus dengan ukuran organisme.

Pada ukuran daun dapat diketahui bahwa pertumbuhan ukuran daun lambat pada awalnya, tetapi kemudian meningkat, yang merupakan fase pertama dalam pertumbuhan. Fase selanjutnya yaitu pertumbuhan berlangsung secara konstan dimana rata-rata kedua sampel relatif tetap pada hari ke-14 dan ke-17 pengamatan, yaitu 9,2 mm dan 9,7 mm. Fase ini dinamakan fase linier. Hal ini sesuai dengan literatur Srigandono (1991) yang menyatakan bahwa fase linear menunjukkan pertumbuhan yang berlangsung konstan. Akan tetapi, pada hari ke-20 sampai ke-28 pertumbuhan terus meningkat. Hal ini tidak sesuai dengan literatur, seharusnya pertumbuhan mulai menurun karena fase penuaan yaitu mencapai kematangan. Sehingga kurva sigmoid tidak membentuk huruf S, karena kesalahan teknis dari praktikan dalam mengukur panjang daun. Kurva ini menggambarkan pertumbuhan tanaman pada waktu tertentu.

KESIMPULAN

Tumbuhan dalam pertumbuhannya mengalami tiga fase pertumbuhan yaitu fase logaritmik, fase linier, dan fase penuaan. Kurva sigmoid menggambarkan pertumbuhan tanaman pada waktu tertentu. Kurva sigmoid tidak membentuk huruf S atau tidak sesuai dengan literatur karena adanya kesalahan pengukuran oleh praktikan.

DAFTAR PUSTAKA

[Anonim].2010. kurva sigmoid pertumbuhan.http://www.unjabisnis.com (22 Mei 2010)

[Anonim]. 2010. kurva sigmoid fisiologi tumbuhan. http://www.nidawafiqahnabila.blogspot.com (22 Mei 2010)

Garner.F.P.1999. Fisiologi Tanaman Budidaya.UI Press : Jakarta

Salisbury.F.B.1995.Perkembangan Tumbuhan dan Fisiologi Lingkungan.ITB:Bandung

Sitompul.S.M.1995.Analisis Pertumbuhan Tanaman.UGM Press : Yogyakarta.

JAWABAN PERTANYAAN

  1. Fase tumbuhan linier adalah fase yang menunjukkan bahwa pertumbuhan tanaman berlangsung secara konstan.
  2. Dari hasil pengamatan, sejak embrio terjadi pertumbuhan tanaman, baik batang, akar, maupun kacang jogo. Dari hasil pengukuran batang, pada awal masa pertumbuhan batang relative lambat, kemudian terus meningkat. Begitu pula dengan pertumbuhan daun, awalnya lambat lalu terus meningkat jumlahnya. Fase pertumbuha ini disebut sebagai fase logaritmik. Setelah mengalami fase logaritmik, baik batang maupun daun mengalami pertumbuhan yang relative konstan pada hari ke-13 sampai hari ke-24. Fase konstan ini disebut juga fase linier. Fase pertumbuhan selanjutnya adalah fase penuaan, yaitu pertumbuhan tanaman menurun akibat penuaan dan telah mencapai kematangan. Fase penuaan ini dapat diamati pada jumlah daun yang berkurang dan mulai mengalami kelayuan. Akan tetapi, pada saat dilakukan pengukuran panjang batang masih mengalami pertambahan ukuran.
  3. Pengukuran laju tumbuh dalam berat kering akan mempengaruhi kurva sigmoid. Karena besar kecilnya berat kering sangat gantung dengan hasil fotosintesis. Apabila hasil fotosintesis menurun, akan mengakibatkan menurunnya berat kering, dan juga sebaliknya. Produksi fotosintat yang lebih besar memungkinkan membentuk seluruh organ tanaman yang lebih besar, seperti daun dan akar yang kemudian menghasilkan produksi bahan kering yang lebih besar. Sedangkan pengukuran laju pertumbuhan menggunakan kurva sigmoid memiliki tiga fase, yaitu fase logaritmik, fase linier, dan fase penuaan.

Percobaan 6

PENGARUH INTENSITAS CAHAYA DAN SUHU TERHADAP LAJU FOTOSINTESIS

Nama   : Meirza Safitri Rizky              Tanggal Percobaan      : 17 Mei 2010

Nrp      : A34080068                           Bahan Tanaman          : Hydrilla sp.

Dept.   : Proteksi Tanaman

Nama Asisten : – Lia Amelia  (G34062494)               Nilai :              Paraf :

- Mafrikhul M (G34052008)

Tujuan : – Melihat pengaruh suhu dan intensitas cahaya terhadap laju fotosintesis dengan mengukur banyaknya O2 yang dikeluarkan.

PENDAHULUAN

Fotosintesis adalah suatu proses biokimia pembentukan zat makanan atau energi yaitu glukosa yang dilakukan tumbuhan, alga, dan beberapa jenis bakteri dengan menggunakan zat hara, karbondioksida, dan air serta dibutuhkan bantuan energi cahaya matahari. Hampir semua makhluk hidup bergantung dari energi yang dihasilkan dalam fotosintesis. Akibatnya fotosintesis menjadi sangat penting bagi kehidupan di bumi. Fotosintesis juga berjasa menghasilkan sebagian besar oksigen yang terdapat di atmosfer bumi. Organisme yang menghasilkan energi melalui fotosintesis (photos berarti cahaya) disebut sebagai fototrof. Fotosintesis merupakan salah satu cara asimilasi karbon karena dalam fotosintesis karbon bebas dari CO2 diikat (difiksasi) menjadi gula sebagai molekul penyimpan energi. Cara lain yang ditempuh organisme untuk mengasimilasi karbon adalah melalui kemosintesis, yang dilakukan oleh sejumlah bakteri belerang.

Proses fotosintesis dipengaruhi beberapa faktor yaitu faktor yang dapat mempengaruhi secara langsung seperti kondisi lingkungan maupun faktor yang tidak mempengaruhi secara langsung seperti terganggunya beberapa fungsi organ yang penting bagi proses fotosintesis. Proses fotosintesis sebenarnya peka terhadap beberapa kondisi lingkungan meliputi kehadiran cahaya matahari, suhu lingkungan, konsentrasi karbondioksida (CO2). Faktor lingkungan tersebut dikenal juga sebagai faktor pembatas dan berpengaruh secara langsung bagi laju fotosintesis.

Faktor pembatas tersebut dapat mencegah laju fotosintesis mencapai kondisi optimum meskipun kondisi lain untuk fotosintesis telah ditingkatkan, inilah sebabnya faktor-faktor pembatas tersebut sangat mempengaruhi laju fotosintesis yaitu dengan mengendalikan laju optimum fotosintesis. Selain itu, faktor-faktor seperti translokasi karbohidrat, umur daun, serta ketersediaan nutrisi mempengaruhi fungsi organ yang penting pada fotosintesis sehingga secara tidak langsung ikut mempengaruhi laju fotosintesis.

HASIL PENGAMATAN

  1. Tabel Pengamatan
Jarak Intensitas Cahaya Volume O2
200 300
15 100 2 mm 1 mm
25 36 1,5 mm 3 mm
60 6,25 2 mm 1,5 mm
120 1,56 10 mm 0,5 mm
  1. Q10= Volume O2 pada 300 / volume O2 pada 200
Jarak Q10
15 0,5
25 2
60 0,75
120 0,05

PEMBAHASAN

Dari hasil pengamatan didapatkan hasil yaitu pada jarak 15 mm, Q10=0,5 mm; jarak 25 mm, Q10=2; jarak 60 mm, Q10=0,75; jarak 120 mm, Q10=0,05. Apabila cahaya yang diserap oleh tanaman besar, maka laju fotosintesis semakin tinggi, dan juga sebaliknya jika intensitas cahaya yang diserap oleh tanaman sedikit, maka laju fotosintesis lambat. Pada hasil penrcobaan juga didapatkan data mengenai pengaruh suhu terhadap laju fotosintesis. Semakin tinggi suhu maka laju fotosintesis juga akan semakin meningkat, begitu pula sebaliknya.

Faktor yang mempengaruhi laju fotosintesis yaitu intensitas cahaya, konsentrasi CO2, suhu, kadar air, kadar fotosintat, dan tahap pertumbuhan. Laju fotosintesis maksimum ketika banyak cahaya. Semakin banyak karbon dioksida di udara, makin banyak jumlah bahan yang dapt digunakan tumbuhan untuk melangsungkan fotosintesis. Enzim-enzim yang bekerja dalam proses fotosintesis hanya dapat bekerja pada suhu optimalnya. Umumnya laju fotosintensis meningkat seiring dengan meningkatnya suhu hingga batas toleransi enzim. Kekurangan air atau kekeringan menyebabkan stomata menutup, menghambat penyerapan karbon dioksida sehingga mengurangi laju fotosintesis. Jika kadar fotosintat seperti karbohidrat berkurang, laju fotosintesis akan naik. Bila kadar fotosintat bertambah atau bahkan sampai jenuh, laju fotosintesis akan berkurang. Menurut literature, laju fotosintesis jauh lebih tinggi pada tumbuhan yang sedang berkecambah daripada tumbuhan dewasa. Hal ini dikarenakan tumbuhan berkecambah memerlukan lebih banyak energi dan makanan untuk tumbuh.

KESIMPULAN

Intensitas cahaya merupakan faktor pembatas fotosintesis karena semakin besar intensitas cahaya yang diserap tanaman, maka laju fotosintesis semakin tinggi, dan sebaliknya. Suhu mempengaruhi laju fotosintesis, semakin tinggi suhu maka akan meningkatkan laju fotosintesis, dan sebaliknya.

DAFTAR PUSTAKA

[Anonim]. 2010. Fotosintesis. http://id.wikipedia.org/wiki (22 Mei 2010)

[Anonim]. 2010. Laporan penelitian pengaruh intensitas. http://link-lunk.blogspot.com (22 Mei 2010)

JAWABAN PERTANYAAN

  1. Intensitas cahaya merupakan pembatas fotosintesis karena semakin besar intensitas cahaya yang diserap tanaman, maka laju fotosintesis semakin tinggi, dan sebaliknya.
  2. Hasil percobaan menunjukkan sifat reaksi ganda dari fotosintesis apabila faktor-faktor yang mendukung laju fotosintesis tersebut sama. Intensitas lampu (cahaya) yang digunakan oleh setiap kelompok dipastikan sama, tidak ada kesalahan pengukuran.
  3. Pada percobaan ini CO2 tidak dianggap sebagai faktor pembatas. Yang dijadikan faktor pembatas adalah suhu yang mempengaruhi fotosintesis dan laju fotosintesis tersebut. Dengan meningkatnya suhu maka akan meningkatkan laju fotosintesis, dan sebaliknya.